Ketidakadilan sering
terjadi di negeri ini, semua terjadi akibat dari sistem kapitalisasi yang telah
menjadi praktek di negeri ini. Agama yang menjadi dasar mayoritas umat islam
Indonesia seringkali dikesampingkan. Hal tersebut dapat kita saksikan ketika
perhelatan “Miss World” yang diselenggarakan di Bali. Meski mendapat penolakan
keras dari MUI, berbagai ormas islam dan pergerakan islam yang ada di tanah air
ini, pihak penyelenggara tetap saja ngotot menyelenggarakan kontes tersebut.
Kontes Miss World ini merupakan salah satu icon
kepornoan, merendahkan martabat kaum perempuan. Pada hakekatnya yang
dikompetisikan hanyalah kecantikan fisik semata, bukan intlektual ataupun
kepedulian sosial yang menjadi penilaian utama.
Dalam konteks islam, perempuan dihormati dengan cara yang
sangat mulia. Dimana tidak boleh menampakkan auratnya dan tak seorangpun berhak
menyantuhnya kecuali bagi muhrimnya. Islam juga memuliakan sosok perempuan
dengan mentakdirkannya sebagai seorang Ibu, dimana dari rahimnya lahir
generasi-generasi penerus bangsa. Selain itu dibawah telapak kakinya juga
diibaratkan ada surga. Begitu luhurnya Islam memuliakan perempuan.
Namun itu tidak selaras dengan pagelaran kontes
kecantikan yang jelas-jelas berasal dari budaya barat. Perlu diketahui kontes
Miss World ini berlatar belakang kontes bikini. Bukan tidak mungkin akan
merusak moral bangsa dan merendahkan kaum perempuan di negara yang mayoritas
masrakatnya beragama islam. Ini merupakan salah satu bentuk penjajahan bangsa
yang bersifat persuasif.
Setelah
usai menjadi tuan rumah Miss World tahun 2013. Direncanakan Indonsia juga akan
menjadi tuan rumah Miss World tahun 2015. Informasi bahwa Indonesia menjadi
tuan rumah Miss World selama dua kali disampaikan langsung oleh CEO MNC Group
Hary Tanoesoedibjo dan Chairwoman of Miss World Organization and International
President of Variety, The Childern’s Charity, Julia Morley. “Kami bangga karena
acara ini akan diikuti 130 negara yang mengirimkan kontestannya dan disiarkan
langsung oleh 180 negara,” tutur Hary Tanoesoedibjo usai penandatangan
kerjasama penyelenggaraan Miss World 2013 dan 2015 di Kemayoran, Jakarta, Sabtu
(28/4/2012), sebagaimana dilansir situs Okezone.com.
Terkait
keputusan ini, Front Pembela Islam berjanji akan terus berupaya menggagalkan
kontes Miss World di Indonesia. Bahkan Imam Besar FPI menyemangati para laskar
untuk tidak pernah rehat dalam aktivitas amar maruf nahi munkar.
Sementara itu,
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kholil Ridwan menegaskan haram hukumnya
menggelar Miss World di Indonesia. Sebagai negara mayoritas muslim, diadakannya
Miss World dapat menjadi preseden buruk. Sebab bukan tidak mungkin, negara
muslim lainnya akan mengikuti langkah Indonesia. “Untuk Miss World tahun 2015,
kita akan lihat apakah benar-benar akan diselenggarakan lagi di Indonesia. Tapi
sikap MUI sudah jelas menolak Miss World,” katanya saat ditanya wartawan (Islampos.com,29/09/2013).
Iffah
Ainur Rohmah juga menegaskan kapitalisme telah menempatkan perempuan seperti
barang yang bisa dieksploitasi kecantikannya demi kepentingan bisnis. Bahkan
dalam konteks rencana even Miss World ini, tampak bahwa kapitalisme juga
menggiring semua orang termasuk para pemimpin (Wakil Bupati, Gubernur Jabar)
yang selama ini dikenal taat beragama menghalalkan apa yang jelas diharamkan
Allah dengan alasan politik dan pariwisata. Jelas-jelas kontes ini penuh
kemaksiatan masih saja dicari nilai positif atau manfaatnya. Itu sama saja
dengan mengambil untung dari kemaksiatan. Ini bukanlah karakter umat Islam.
Bukankah justru umat islam diperintahkan untuk menghilangkan kemungkaran!!
Kapitalisme
menghasilkan masyarakat yang semakin rusak, kecanduan produk porno. Di sisi
lain orientasi hidup banyak orang adalah ingin cepat terkenal dan menghalalkan
segala cara untuk populer dan berlimpah materi. Melalui kontes Miss World ini semua
kondisi buruk tersebut makin dikokohkan. Ini sangat berbahaya bagi generasi
bangsa yang sangat diharapkan menjadi generasi yang mengharumkan identitas umat
Islam dengan keunggulan karakter dan karya intelektualitasnya. Bukan dicatat
dunia sebagai penghasil kepornoan dan pelaku pelecehan seksual.
Tanggung
jawab kita di akhirat juga berat sekali. Ingatlah firman Allah “Jagalah
diri dan keluargamu dari api neraka” (QS At Tahrim:6). Bukan hanya diri
dan keluarga kita sendiri, tapi juga umat dan anak-anak umat juga tanggung
jawab kita.
Perempuan
adalah kehormatan yang wajib mendapat perlindungan. Jadi perempuan adalah
kehormatan bagi keluarga bahkan bagi bangsanya. Perlidungan atas kehormatan dan
martabatnya adalah sebuah keharusan, dan diwujudkan dalam kebijakan negara. Tidak
akan diizinkan setiap aktifitas dan pekerjaan yang bisa merendahkan martabat
perempuan, apalagi mengeksploitasi kecantikannya. Perempuan dilarang
menampakkan aurat dan haram tabarruj. Laki-laki juga haram melihat
aurat perempuan.







